Prinsip-prinsip Pengawetan Bahan Pangan
Macam-macam Pengawetan Bahan Pangan :
Ø
Pendinginan dan pembekuan (suhu rendah
Ø
Pemanasan
Ø
Pengeringan
Ø
Pengasapan
Ø
Iradiasi
Ø
Penambahan
bahan kimia
Ø
Fermentasi
PENGAWETAN DENGAN PENGGUNAAN SUHU RENDAH
Penyimpanan bahan pangan dalam suhu yang rendah
dapat memperpanjang umur simpan bahan pangan. Penyimpanan suhu rendah ® juga diartikan sebagai suatu usaha
penyimpanan bukan suatu pengawetan, karena hanya merupakan penyimpanan
sementara . Penyimpanan
pada suhu rendah ada 2 cara
1. Penyimpanan
di atas titik beku bahan yang disebut pendinginan
2. Penyimpanan
di bawah titik beku bahan yang disebut pembekuan
Dasar penggunaan suhu rendah adalah bahwa pada
suhu rendah laju respirasi bahan segar dapat dihambat dan mikroba tidak dapat
tumbuh atau tidak dapat berkembang biak dan reaksi-reaksi enzimatis serta
reaksi kimiawi yang menyebabkan kerusakan atau pertumbuhan dapat dihambat Penggunaan
suhu rendah dapat memperlambat reaksi metabolisme ® di mana setiap penurunan suhu 10 °C kecepatan reaksi akan berkurang
menjadi setengahnya .
Pada penyimpanan suhu 25 – 40 °C proses respirasi adalah maksimal .
Suhu diturunkan proses
respirasi akan berlangsung lebih lambat shg umur simpan bahan pangan lebih lama
a.
Pendinginan (cooling)
Penyimpanan
bahan pangan pada suhu di atas titik beku (-1 °C) bahan dan di bawah 15 °C (suhu rendah) . Untuk menyimpan bahan pangan dalam
jangka waktu pendek untuk mencegah / menghambat:
a.
Aktivitas
metabolisme sel buah dan sayuran setelah panen dan sel hewan setelah
disembelih, sehingga
penurunan kualitas bisa dihambat
b. Pertumbuhan mikroba
c. Berlangsungnya
reaksi kimia yang mengakibatkan kerusakan kualitas bahan pangan,
seperti reaksi
pencoklatan enzimatis dan non enzimatis, oksidasi lemak, penurunan nilai gizi
secara umum
d. Penguapan air yang
menimbulkan kelayuan dan kehilangan berat bahan
Dasar pertimbangan penyimpanan dingin (Suhu
rendah)
Respirasi aerob ® proses perombahan KH menjadi gula
sederhana, yang selanjutnya diikuti oleh oksidasi senyawa organik melalui
siklus asam sitrat (siklus kreb) . Metabolisme ini berlangsung secara enzimatis dan dihasilkan air,
karbondioksida, senyawa volatil dan energi
Penyimpanan
suhu rendah akan menghasilkan umur simpan maksimum bila:
a.
Respirasi
aerob terus berlangsung pada tingkat serendah-rendahnya
b.
Suhu
penyimpanan cukup rendah, sehingga reaksi-reaksi kimiawi yang menimbulkan
kerusakan sel-sel bisa ditekan sekecil mungkin
c.
Aktivitas
respirasi aerob bisa diperlambat sehingga fase kelewat masuk bisa ditunda dan
buah bisa matang dalam kondisi penyimpanan terkontrol, kecuali buah yang peka
terhadap “chilling injury” (kerusakan karena suhu dingin)
Pendinginan dapat mencegah
kelayuan daging dan menurunnya air . Untuk mendapatkan daging berkualitas, maka karkas harus segera
didinginkan sesudah penyembelihan ® respirasi aerob menurun.
Pengaruh negatif pendinginan
terhadap bahan pangan :
- Chilling Injury
Beberapa buah tropis dan sub tropis
menunjukkan gejala kerusakan fisiologi bila disimpan di bawah suhu penyimpanan
optimum, namun di atas suhu bekunya
Gejala chilling injury
a. Pencoklatan baik eksternal atau
internal pada jaringan sel
b. Bopeng atau bercak coklat pada
permukaan kulit (blemishes)
c. Pembusukan meluas dan ripening
abnormal (gagal matang)
Faktor-faktor yang mempengaruhi
Chilling
a. Suhu
b. Waktu
penyimpanan
c. Tingkat
kematangan
d. Tingkat
kehilangan air pada komoditi
2. Pengkerutan jaringan otot daging
Daging bila didinginkan pada suhu 0
– 5 °C
sebelum rigor mortis ® cepat mengkerut dan otot menjadi kaku secara
berlebihan serta penurunan air yang drastis, akibatnya kualitas daging menjadi
buruk
3. Pengerasan roti
Roti ®
mengeras bila disimpan pada suhu dingin.
b.
Pembekuan ( Freezing )
Penerapan
teknik pembekuan merupakan Alternatif terbaik teknik penyimpanan jangka panjang
saat ini. Teknik pembekuan
yang benar menghasilkan produk yang nilai gizi, flavor dan warna yang tetap
terjaga selama penyimpanan.
Pengaruh pembekuan
a.
Bahan
pangan akan membeku pada kisaran suhu tertentu
tergantung kadar air dan
komposisi kimia sel bahan
b.
Pembekuan
yang berjalan lambat (0 – -18 °C) terbentuk kristal es yang tidak seragam
dalam susunan jaringan sel ® menimbulkan kerusakan sel yang sifatnya
permanen, sehingga kualitas rendah sesudah thowing
c.
Pembekuan
cepat (-24 – - 40 °C)
menghasilkan distribusi kristal es dalam sel dan ruang antar sel seragam dan
kecil-kecil ®
struktural sel tetap dan kenampakan bahan pangan hampir sama dengan sebelum
dibekukan. Kualitas bahan pangan yang dibekukan secara cepat lebih baik dari
pada pembekuan lambat
d.
Mikroba
tidak bisa tumbuh dan berkembang biak pada suhu sekitar – 12°C
e.
Bahan
pangan yang dibekukan pada suhu – 18 °C mencegah pertumbuhan mikroba
pembusuk
f.
Pembekuan
® kerusakan sel mikroba dan sebagian
sel mati atau rusak
g.
Bila
sel yang rusak dibiarkan pulih kembali akibat kondisi suhu yang optimum, maka
sel mikroba cepat berkembang biak bila kondisi lingkungan pertumbuhannya cocok.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar